Oleh: rumahbelajaritb | 07/01/2010

.

.

Iklan
Oleh: someonefromthesky | 02/05/2009

Fun Science di Rubel

wah ramai

wah ramai


Sabtu tanggal 25 April lalu, Rubel bekerja sama dengan Telkomsel dan DoctoRabbit mengadakan acara Fun Science dan Pengenalan Telekomunikasi Seluler. Acara yang dimulai pukul 12 siang ini dihadiri sekitar 120 orang anak-anak usia sekolah dasar, plus didampingi orang tua masing-masing. Acara ini dimulai dengan permainan mengasah ketangkasan dan konsentrasi, lalu pengenalan sejarah teknologi telekomunikasi, dan diikuti dengan percobaan sains sederhana, misalnya cara kerja telepon pipa dan memasukkan telur ke dalam botol. Anak-anak tampak begitu antusias mengikuti acara ini, apalagi di akhir acara tiap peserta mendapatkan souvenir menarik dari sponsor.
ayo, maju ke depan

ayo, maju ke depan

Oleh: Anggia Riksa | 06/02/2009

Hasil Pembahasan Sementara Tim Kurikulum Rubel

Dalam upaya untuk membangun model pendidikan ideal di Indonesia, di Rumah Belajar dikembangkan sebuah model kurikulum yang berbasis pada empat hakikat pendidikan, antara lain:

1. mengembangkan seluruh potensi peserta didik;

2. membimbing peserta didik untuk menemukan misi kemanusiaan dan perannya dalam kehidupan;

3. mengembangkan kemampuan berpikir dan hasrat belajar;

4. pewarisan nilai-nilai dan pengetahuan.

Keunikan manusia terletak pada keberagaman potensinya. Berpijak pada teori multiple intelligences yang digagas oleh Howard Gardner pada 1983, kami berupaya untuk memberi ruang yang cukup untuk tumbuh-kembangnya seluruh potensi kecerdasan peserta didik. Berbeda dengan pendidikan formal yang saat ini cenderung mengembangkan aspek kognitif saja, proses pendidikan di rumah belajar berupaya untuk mengoptimalkan potensi peserta didik yang beragam dengan metode yang sesuai dengan kecenderungan gaya belajar mereka.

Merupakan keprihatinan yang sangat besar ketika disadari bahwa pendidikan kita selama ini tidak memberikan arahan yang sesuai mengenai Baca Lanjutannya…

Oleh: Anggia Riksa | 04/02/2009

Budaya Mencontek

Mencontek dapat diartikan sebagai perbuatan untuk mencapai suatu keberhasilan dengan jalan yang tidak sah. Walaupun dalam hal ini kata “keberhasilan” dan “sah” masih dapat diperdebatkan. Tetapi saya mengambil logika secara umum dalam masyarakat kita. Sedangkan budaya adalah suatu produk manusia melalui proses pembelajaran. Dalam pengertian di atas terjadi pertentangan antara mencontek dalam konotasi yang negatif dan budaya dalam konotasi positif. Apakah patut kita menggandengkan kata budaya dengan kata mencontek dalam hal ini. Ketika frame of reference kita adalah fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita maka hal ini sah-sah saja.

Ujian nasional (UAN) pada tahun 2008 ini dipenuhi dengan pemberitaan yang cukup menggemparkan. Salah satunya adalah penangkapan para guru oleh Detasemen 88. Detasemen 88 yang biasa bertugas dalam aksi penangkapan teroris sekarang beralih objek kepada para guru Baca Lanjutannya…

Oleh: someonefromthesky | 03/02/2009

Mengintip Masa Depan Bersama Rubel

resized_dsc02606

resized_dsc02633

Pada hari Minggu tanggal 18 Januari 2009, Rumah Belajar ITB mengadakan sebuah acara di gedung sekolahnya yang terletak di Jl. Sangkuriang 19A. Acara yang diberi judul Jika Aku Menjadi—mirip nama salah satu program tivi—merupakan acara simulasi cita-cita dan masa depan yang diberikan kepada anak-anak peserta Rumah Belajar. Konsep dari acara ini adalah memperkenalkan berbagai bidang keilmuan dan profesi, sebagai pancingan sekaligus percobaan untuk mendeteksi minat dan bakat setiap anak peserta Rumah Belajar. Kegiatan ini juga menjadi sarana perkenalan antara para pengajar baru dan peserta didiknya Baca Lanjutannya…

Oleh: rumahbelajaritb | 19/01/2009

Sudahkah Kita Belajar?

Bismillah

SUDAHKAH KITA BELAJAR?


Sebuah refleksi kritis terhadap pengalaman dalam proses pendidikan formal

Oleh: Jaka Arya Sakti


“Untuk apa kamu sekolah?”, pertanyaan sederhana yang mungkin setiap orang yang bersekolah dapat dengan mudah menjawabnya. “Untuk belajar dong!”, dengan semangat sebagian besar kita akan menjawab. Oke, sekolah untuk belajar. Sekarang kita berandai-andai, andai saja ketika kita lahir tidak pernah ada sesuatu yang namanya sekolah, kira-kira masih ada tidak sesuatu yang namanya belajar? Lagi-lagi dengan semangat, sebagian besar kita akan menjawab, “Ya ada dong!”. Siip, berarti belajar tidak harus bergantung sekolah kan? Pertanyaan selanjutnya, bersediakah kita keluar dari sekolah? Toh sekolah atau tidak, kita masih bisa belajar. Nah, dari hasil observasi, hampir setiap orang yang ditanya pertanyaan ini akan termenung dulu, entah berpikir atau memang agak shock. Keluar dari institusi sekolah memang hal yang agak tidak biasa dalam norma masyarakat kita. Ternyata sebagian besar jawabannya adalah tidak. Loh? Kan tidak sekolah pun masih bisa belajar. Ternyata lagi, sebagian besar alasannya adalah IJAZAH. Loh? Loh? Loh? Coba kita ulang lagi pertanyaan pertama, “Untuk apa kamu sekolah?”. Loh? Kok diam?


Ya, kalau kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, kita akan mengakui kalau proses kita bersekolah sudah begitu meaningless. Pernah merasa jenuh sekolah? Bosan menjalani rutinitas? Lari pagi agar tidak terlambat masuk sekolah, terkantuk-kantuk menahan bosan saat pelajaran, serta bersorak-sorai saat waktu istirahat dan pulang sekolah? Baca Lanjutannya…

Oleh: yandhie | 19/11/2008

Pemuda adalah semangat untuk berkarya

Oleh Budiono

Seratus tahun yang lalu, kita mengenal Budi Oetomo sebagai organisasi intelektual bangsa yang mengubah cara Indonesia untuk merebut hakekat kemerdekaannya.  Enam puluh tiga tahun yang lalu, pemuda dengan keberaniannya mendesak Soekarno dan Moch. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan negeri kita tercinta ini.  Dan Enam puluh tiga tahun satu bulan yang lalu, Bung Tomo dengan semangat kepemudaannya berkoar di kota Surabaya dan meneriakkan kalimat, “Merdeka atau Mati”. Namun,  tiga minggu yang lalu, di koran kompas disebutkan, lebih dari 83,2 persen koresponden Indonesia menyatakan, kini jiwa kepahlawanan dan semangat kepemudaan telah luntur dan disalahartikan. Betapa ironi sekali negara ini. Kemana Indonesia akan bisa melangkah ? Krisis kepemudaan telah melanda negeri ini. Indonesia kini sangat susah untuk melahirkan Soekarno-soekarno baru. Bintang sinetron pun tanpa disadari menjadi pahlawan dan panutan baru yang semu dalam setiap aktivitas. 

Krisis kepemudaan ini harus segera ditindaklanjuti, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di kampus harus mampu menimbulkan percikan-percikan semangat baru, semangat kepahlawanan pemuda, yang dapat diwujudkan dengan semangat berkarya untuk bangsa. Sumpah Pemuda adalah contoh karya nyata yang dibuat oleh pemuda dan pemudi dari seluruh Indonesia pada tahun 1928 yang lalu.  Bisakah kita sebagai generasi penerus berkarya untuk bangsa seperti mereka ? Dan apakah moment hari pahlawan dan satu abad kebangkitan bangsa telah mampu menjadi bahan evaluasi diri sampai sejauh mana kita telah berkarya ? Jawabannya harus ditanyakan kepada diri kita masing-masing. 

Setiap tahun, satu juta anak negeri Indonesia yang tidak menemukan sumber nafkah di negerinya sendiri mengais rezeki di negeri orang. Pendudukan miskin menjadi 35 juta jiwa. Ada sekitar 13 juta jiwa yang masih belum bisa membaca dan menulis. Pengangguran terus meningkat menjadi 9 juta jiwa. Kemiskinan, pengangguran, serta korupsi yang meluas dan melanda negeri ini memerlukan pahlawan-pahlawan baru yang dapat diwujudkan oleh pemuda dengan segenap karya-karyanya. 

Semangat kepemudaan adalah semangat berkarya untuk bangsa. Semangat untuk memahami krisis yang melanda negeri ini, semangat untuk mau merelakan diri terlibat dalam pencarian solusi sesuai dengan kapasitas diri, serta semangat untuk penuh konsisten dalam mewujudkan mimpi. Itulah karya pemuda Indonesia yang terus dan selalu dinanti-nanti. Tri Dharma perguruan tinggi sudah tidak boleh lagi hanya menjadi sebuah simbolisasi. Untuk itu, Rumah Belajar ITB hadir dalam sebuah karya dalam membantu masyarakat untuk mengembangkan diri dalam bidang pendidikan, sosial, dan kemandirian ekonomi. 

Karya ini adalah sebuah cita-cita dan mimpi yang tinggi. Sangat jauh untuk dapat dirasakan kemanfaatannya dengan segera, tetapi jika terus dijalankan dengan penuh konsistensi, Insya Allah, suatu saat nanti akan lahir pemuda-pemuda berpotensi yang mampu menjadi bagian dalam menyelamatkan negeri ini. 

Untuk sekian kalinya kawan, jangan pernah berhenti berkarya meskipun secara usia suatu saat nanti kita sudah tidak lagi muda. Karena bangsa dan negara ini akan selalu membutuhkan kerelaan dan kesadaran kita. 

Oleh: Radix Hidayat | 24/10/2008

Pendidikan Laskar Pelangi

Disclaimer: artikel ini merupakan kutipan dari tulisan oleh Armein ZR Langi seperti termuat pada link aslinya

Bicara pendidikan tidak ada habis-habisnya.  Tapi kita mendapat perspektif mendalam dari film Laskar Pelangi. Tiga hari lalu saya ajak Marco nonton Laskar Pelangi. Film luar biasa ini mampu memikat penonton dengan alur kisahnya yang bagus.  Tapi yang terpenting, film ini mengubah perspektif orang mengenai makna pendidikan.

 

Mengapa sih kita capek-capek sekolah?  Mengapa kita mengirim anak kita ke sekolah?  Bukankah dari berbagai pengalaman hidup kita, sekolah itu bisa merupakan tempat yang kurang mengesankan?

Saya pikir banyak perbuatan kita atau tindakan kita yang tidak berdasar.  Banyak yang kita buat itu ikut-ikutan.  Tanpa dipikirkan matang-matang.  Bersekolah juga begitu.  Karena semua anak pergi sekolah, kita juga.  Karena semua anak bimbingan test, anak kita juga.  Semua orang tua berebut sekolah favorit, kiat juga.

Kalau bersekolah itu sebuah jawaban, apa pertanyaannya?

Supaya kita bisa mendapat kerja.  Supaya status kita terhormat.  Supaya kita cerdas.  Demikian motivasi kita.  Tidak salah memang.  Tapi kalau itu tujuannya, saya kira tidak perlu ada sistem sekolah seperti sekarang.  Cukup dengan training, seminar, atau praktek on-the-job.  Sudah terbukti orang-orang yang super sukses seperti Bill Gates atau Henry Ford bukanlah produk pendidikan formal.

Jadi saya pikir yang benar adalah kita bersekolah supaya kita mengerti apa makna kehidupan.  Apa hakekat alam semesta.  Siapa kita sebenarnya.  Bagaimana kita bisa sukses dalam menjalankan kehidupan jati diri kita.  Bagiamana pembentukan karakter yang sepadan dengan jati diri manusia.

Pertanyaan mendasar dan filosofis ini menggerakkan filsuf-filsuf sejak jaman purba.  Tanpa semangat untuk menjawab pertanyaan tersebut, bersekolah itu benar-benar penyiksaan, buang waktu, buang uang, dan buang umur.

Kembali pada film Laskar Pelangi.  Saya tidak bisa menghindar dari kesan betapa borosnya pendidikan mewah di SD favorit Belitong, sedangkan betapa istimewanya pendidikan di SD Muhammadiyah yang mau roboh itu.  Betapa mahal kosmetik pendidikan.

Tentu tidak ada yang ingin semua gedung sekolah dirobohkan supaya jadi sama dengan SD Muhammadiyah itu.  Sekolah favorit dikebiri menjadi sejelek sekolah pinggiran.

Bukan begitu.

Kita harus kembali ke pertanyaan dasar, mengapa pendidikan masal itu dilakukan.  Dan apapun resources kita, kita harus mengutamakan esensi pendidikan itu: mengenali kehidupan, mengenali alam semesta, menemukan jati diri dan tujuan hidup, serta  membentuk karakter yang pas untuk sukses dalam hidup.

Kalau belum nonton Laskar Pelangi, buruan ke bioskop.  Such a good story and good movie deserves our time and money.

Oleh: Radix Hidayat | 16/10/2008

Arsitektur Bakti Masyarakat

Kira-kira sebulan lagi, Rumah Belajar ITB akan mendapatkan penataan ulang, dalam acara Arsitektur Bakti Masyarakat (ABM) yang diselenggarakan oleh teman-teman Ikatan Mahasiswa Arsitektur-Gunadharma (IMA-G) ITB. acara yang diselenggarakan dari 18 Oktober 2008 hingga 29 november 2008 ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat IMA-G yang bekerja sama dengan Rumah Belajar ITB dalam bentuk penataan lahan Rumah Belajar ITB sebagai ruang terbuka hijau (RTH) yang sekaligus merupakan ajang bagi mahasiswa arsitektur ITB pada umumnya untuk mempelajari konsep arsitektur berwawasan lingkungan.

Pendekatan yang diambil IMA-G dalam mewujudkan RTH ini ialah pendekatan partisipatif yang melibatkan mahasiswa, masyarakat lokal, maupun masyarakat umum. Untuk mewadahi hal tersebut, dilakukan serangkaian kegiatan sebagai berikut:

 

  • Workshop Desain Taman yang diadakan hari Sabtu dan Minggu tanggal 18 – 19 Oktober 2008 yang diikuti seluruh peserta yang akan merancang ruang terbuka hijau di Jalan Sangkuriang.
  • Pembangunan Hasil Workshop selama kurang lebih tiga minggu (28 Oktober – 22 November 2008) yang merupakan pengaplikasian dari hasil rancangan yang telah didesain oleh peserta workshop.
  • Pembukaan Bersama Warga pada tanggal 29 November 2008.

 

Terimakasih, kawan-kawan IMA-G! Tak sabar rasanya kami menunggu karya besar kalian!

Oleh: Radix Hidayat | 12/10/2008

Kak Seto Akan Hidupkan Kembali Si Komo

Kapanlagi.com – Ketua Komisi Nasonal Perlindungan Anak (Komnas PA), Dr Seto Mulyadi, atau lebih akrab dipanggil Kak Seto mengatakan pihaknya akan menghidupkan kembali tokoh Komo yang pernah dibuatnya beberapa tahun yang lalu.

“Setelah masa jabatan saya di Komnas PA selesai pada September nanti, saya akan berkonsentrasi membuat Komo,” katanya saat ditemui pada Kongres Anak Indonesia (KAI) di Depok, Jumat.

 Dia mengatakan tayangan Komo yang baru itu akan mengalami beberapa pengembangan cerita, seperti penambahan tokoh baru.

 Komo diceritakan akan memiliki adik kembar tiga yang terdiri dari Komi, komodo berwarna hijau, Kimi, komodo berwarna kuning, serta Kimo yang memiliki warna merah muda. Ketiga tokoh tersebut akan dikenal dengan singkatan Komimo.

 Selain itu, ada tokoh lain yang akan diperkenalkan pada penonton, yaitu teman-teman Komo yang merupakan hewan-hewan asli Indonesia.

 Mereka adalah Ano yang berbentuk hewan anoa, Beki yang merupakan ayam bekisar, Cendi, cendrawasih dari Papua, Datu yang merupakan badak cula satu dan Ebo, elang bondol dari Jakarta. “Semuanya kalau disingkat jadi ABCD,” katanya.

 Tayangan itu akan memberikan pendidikan karakter untuk anak karena tokoh-tokohnya adalah anak yang riang gembira, bersahabat, hidup sederhana, dan saling tolong-menolong.

 Menurut dia, semua tokohnya berbentuk hewan karena anak menyukai cerita fabel. Hewan asli Indonesia juga dipilih untuk mengobati kerinduan tokoh nasional yang digali dari alam budaya sendiri. “Selama ini tokoh Doraemon begitu kuat di mata anak-anak karena media mendukung itu,” katanya.

 Dia mengatakan pihak stasiun televisi harus didesak agar peduli pada pendidikan anak, karena sebenarnya tayangan Komo dapat menarik perhatian penonton.

Menurut SetoKomo akan dipenuhi lagu-lagu yang menarik serta musik yang lincah seperti tayangan Barney buatan televisi Amerika Serikat yang sukses ditayangkan di negara asalnya.

Walaupun begitu, dia mengatakan belum menawarkan tayangan ini ke stasiun televisi mana pun, karena belum selesai sepenuhnya. “Saya harap tahun depan rencana ini bisa terealisasi, ” ujarnya (*/erl)

Older Posts »

Kategori