Dalam upaya untuk membangun model pendidikan ideal di Indonesia, di Rumah Belajar dikembangkan sebuah model kurikulum yang berbasis pada empat hakikat pendidikan, antara lain:
1. mengembangkan seluruh potensi peserta didik;
2. membimbing peserta didik untuk menemukan misi kemanusiaan dan perannya dalam kehidupan;
3. mengembangkan kemampuan berpikir dan hasrat belajar;
4. pewarisan nilai-nilai dan pengetahuan.
Keunikan manusia terletak pada keberagaman potensinya. Berpijak pada teori multiple intelligences yang digagas oleh Howard Gardner pada 1983, kami berupaya untuk memberi ruang yang cukup untuk tumbuh-kembangnya seluruh potensi kecerdasan peserta didik. Berbeda dengan pendidikan formal yang saat ini cenderung mengembangkan aspek kognitif saja, proses pendidikan di rumah belajar berupaya untuk mengoptimalkan potensi peserta didik yang beragam dengan metode yang sesuai dengan kecenderungan gaya belajar mereka.
Merupakan keprihatinan yang sangat besar ketika disadari bahwa pendidikan kita selama ini tidak memberikan arahan yang sesuai mengenai persoalan mendasar mengapa dan untuk apa kita hidup. Kekeringan makna seperti inilah yang kemudian menghasilkan produk-produk pendidikan yang cenderung mirip dengan robot. Kaya dengan pengetahuan dan teknologi, namun tak mampu memaknai dan memberikan “sentuhan kemanusiaan“ pada karya-karyanya. Padahal dalam kerangka pendidikan yang “memanusiakan manusia“ hal ini sangatlah esensial. Manusia yang lengah dalam membangun konsep diri dan menemukan misi kehidupannya akan terombang-ambing dalam gelombang kehidupan.
Aspek lain yang juga esensial dalam proses pendidikan adalah pengembangan kemampuan berpikir. Metode berpikir yang benar akan menghasilkan buah pemikiran yang konstruktif terhadap pembangunan dan pengembangan peradaban. Peserta didik pun selayaknya memahami dan mampu mengaplikasikan teknik berpikir yang beragam dan mengaplikasikannya pada kondisi yang sesuai. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, maupun ilmiah, serta pola berpikir induktif dan deduktif perlu dibangun untuk menghasilkan fleksibilitas berpikir dalam menghadapi berbagai objek dan fenomena. Dengan demikian akal peserta didik akan selalu dapat menggunakan senjata dan amunisi berpikir yang tepat sesuai dengan objek pemikirannya. Selain itu, pendidikan pun harus mampu memantik hasrat belajar dalam prosesnya sehingga peserta didik selalu memiliki motivasi dan semangat tiada habisnya dalam mengeksplorasi ilmu dan pengetahuan untuk kehidupan umat manusia.
Yang terakhir adalah pewarisan nilai-nilai dan pengetahuan. Bagaimanapun, pendidikan adalah proses penyiapan suatu generasi baru untuk melanjutkan estafet pembangunan dan pengembangan peradaban. Nila-nilai luhur dan pengetahuan yang telah dicapai oleh generasi sebelumnya patut diwariskan pada generasi muda, bukan dengan pola dogmatis dan indoktrinasi, namun melalui proses transfer yang diliputi kesadaran kritis dan keteladanan. Dengan demikian pewarisan nilai-nilai dan pengetahuan berada pada semangat pembangunan peradaban yang dinamis dan mencerdaskan alih-alih sebagai alat pelanggengan otoritas penguasa semata.
Namun demikian, kegiatan di rumah belajar tidak pula bermaksud untuk menjadi substitusi sekolah formal. Pada saat ini, kami hadir untuk melengkapi sisi-sisi yang kurang tercakup pada pengalaman belajar peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar yang komprehensif dan bermakna. Pola yang dipegang dalam interaksi adalah belajar bersama. Tak ada hirarki tegas yang membedakan pengajar dengan murid. Selama beraktivitas di Rumah Belajar, semuanya belajar bersama dan berbagi.
Secara umum, filosofi dan semangat Rumah Belajar terkait dengan poin-poin berikut ini:
1. berbasis pada empat hakikat pendidikan;
2. memperhatikan teori perkembangan anak (tinjauan psikologis berdasarkan usia anak)
3. tidak hanya berorientasi pada perkembangan individu namun pada keberhasilan kelompok/komunal
4. optimalisasi potensi terdekat dan memprioritaskan penyelesaian masalah lokal
5. berorientasi pada pemahaman dan karya, bukan target materi
Overview Program Rumah Belajar:
1. Kelompok-kelompok Belajar
Pola belajar yang dirancang saat ini, menggunakan pendekatan kelompok-kelompok belajar sesuai dengan bidang tertentu. Sejauh ini terdapat sembilan bidang yang dapat dipilih dan diikuti peserta didik sesuai minatnya, antara lain:
a. Sains
b. Bahasa
c. Sosial Humaniora
d. Keterampilan
e. Seni Rupa
f. Musik
g. Teknologi Terapan
h. Olahraga
i. Kesehatan dan Lingkungan
Setiap hari senin-sabtu, kelompok-kelompok belajar tersebut memiliki shift waktu aktivitas tersendiri. Kegiatan yang di
2. Ahad Ceria
Setiap hari Ahad adalah waktu untuk menyelenggarakan acara-acara insidental
thank you. I doubt you understand though.
Oleh: someonefromthesky on 03/03/2009
at 06:14
program yang sekiranya dapat menjadi alternatif dalam dunia pendidikan di indonesia ini
Oleh: otjtajopie on 18/04/2009
at 08:09