Disclaimer: artikel ini merupakan kutipan dari tulisan oleh Armein ZR Langi seperti termuat pada link aslinya
Bicara pendidikan tidak ada habis-habisnya. Tapi kita mendapat perspektif mendalam dari film Laskar Pelangi. Tiga hari lalu saya ajak Marco nonton Laskar Pelangi. Film luar biasa ini mampu memikat penonton dengan alur kisahnya yang bagus. Tapi yang terpenting, film ini mengubah perspektif orang mengenai makna pendidikan.
Mengapa sih kita capek-capek sekolah? Mengapa kita mengirim anak kita ke sekolah? Bukankah dari berbagai pengalaman hidup kita, sekolah itu bisa merupakan tempat yang kurang mengesankan?
Saya pikir banyak perbuatan kita atau tindakan kita yang tidak berdasar. Banyak yang kita buat itu ikut-ikutan. Tanpa dipikirkan matang-matang. Bersekolah juga begitu. Karena semua anak pergi sekolah, kita juga. Karena semua anak bimbingan test, anak kita juga. Semua orang tua berebut sekolah favorit, kiat juga.
Kalau bersekolah itu sebuah jawaban, apa pertanyaannya?
Supaya kita bisa mendapat kerja. Supaya status kita terhormat. Supaya kita cerdas. Demikian motivasi kita. Tidak salah memang. Tapi kalau itu tujuannya, saya kira tidak perlu ada sistem sekolah seperti sekarang. Cukup dengan training, seminar, atau praktek on-the-job. Sudah terbukti orang-orang yang super sukses seperti Bill Gates atau Henry Ford bukanlah produk pendidikan formal.
Jadi saya pikir yang benar adalah kita bersekolah supaya kita mengerti apa makna kehidupan. Apa hakekat alam semesta. Siapa kita sebenarnya. Bagaimana kita bisa sukses dalam menjalankan kehidupan jati diri kita. Bagiamana pembentukan karakter yang sepadan dengan jati diri manusia.
Pertanyaan mendasar dan filosofis ini menggerakkan filsuf-filsuf sejak jaman purba. Tanpa semangat untuk menjawab pertanyaan tersebut, bersekolah itu benar-benar penyiksaan, buang waktu, buang uang, dan buang umur.
Kembali pada film Laskar Pelangi. Saya tidak bisa menghindar dari kesan betapa borosnya pendidikan mewah di SD favorit Belitong, sedangkan betapa istimewanya pendidikan di SD Muhammadiyah yang mau roboh itu. Betapa mahal kosmetik pendidikan.
Tentu tidak ada yang ingin semua gedung sekolah dirobohkan supaya jadi sama dengan SD Muhammadiyah itu. Sekolah favorit dikebiri menjadi sejelek sekolah pinggiran.
Bukan begitu.
Kita harus kembali ke pertanyaan dasar, mengapa pendidikan masal itu dilakukan. Dan apapun resources kita, kita harus mengutamakan esensi pendidikan itu: mengenali kehidupan, mengenali alam semesta, menemukan jati diri dan tujuan hidup, serta membentuk karakter yang pas untuk sukses dalam hidup.
Kalau belum nonton Laskar Pelangi, buruan ke bioskop. Such a good story and good movie deserves our time and money.
Ada yang bilang kepada saya bahwa sekolah berasal dari bahasa yunani yang berarti waktu luang.
Ya, sekolah adalah kegiatan yang kita lakukan disaat kita memilki waktu luang. Sekolah adalah penggunaan waktu luang untuk mendapatkan hakikat murni dari diri manusia.
Setiap orang mencari sesuatu dalam hidupnya. Sudah sepantasnya sekolah mengajarkan cara untuk mengetahui jalan mana yang harus diraih untuk mencapai tujuan hidup itu.
Bersekolah = mengisi waktu luang = meluangkan waktu untuk mempelajari arti hidup…
CMIIW…
Oleh: yandhie on 31/10/2008
at 20:43