Oleh: shallypristine | 10/09/2008

Permata di Mata-mata Mereka yang Bercahaya

Tanggal 19 Agustus 2008 yang lalu, Hari Perdana Belajar di Rumah Belajar KM ITB resmi dimulai. Selasa, Rabu, hingga Jumat berlalu; saya belum kunjung sempat datang ke Sangkuriang 19A. Akhirnya, Sabtu lalu saya berjodoh dengan para malaikat itu.

Pluk, seorang bocah menggelayut di punggung saya. Irsan namanya. Dalam hati saya bergumam, nih anak SKSD pisan. Baru kenalan udah maen nemplok aja..

Irsan gak ngaji?

Aku libuuur…

Sekarang mau belajar apa?

Gamau belajar, mau gambar aja…

Boleh, tapi abis ngegambar belajar ya??

Gamau..

Skak mat. Saya mati kutu. Yasudah, biarkan dia menggambar saja dulu. Sementara Irsan menggambar, datang segerombolan anak yang lain yang maunya cuma pindah main ke Rumah Belajar. Main layangan dalam ruangan. Bayangkanlah.

Kutukkutukkutuk, datang lagi dua orang anak pra-SD yang selalu main bersama. Buku tulisnya disorongkan ke hadapan saya.

Mau belajar apa? nulis?

Enggak. Kakak, kakak nomer hapenya berapa?

Hah?

Tulis di buku aku ya…

Saya tuliskan duabelas angka nomor HP saya. Mereka berdua berebutan, saling mengklaim kepemilikan atas kertas bernomer hape saya itu. Sesaat saya merasa jadi selebritis [:p]. Cuma sesaat karena setelah itu Irsan meminta dituliskan abjad untuk ia tirukan di buku latihannya. Sudah selesai menggambar rupanya dia. Belum dua baris latihan menulisnya ia tuntaskan, Difa mengajak Irsan main kucing-kucingan. Irsan menolak, Difa menjerit minta Irsan ikut main.

Mulai chaos.

Yandi Rama datang, syukurlah. Ada bala bantuan. Yandi mengurusi geng Para Bangor supaya tidak mengacau konsentrasi yang sedang belajar. Sandi mengajari anak-anak kelas 3 dan 4, Kasfi mengajar anak-anak kelas 5, dan saya mengajari anak-anak TK, kelas 1 dan kelas 6.

Kami pun ’selesai’ belajar 2 jam kemudian. Dadaah, kata mereka. Sebelum dadah, harus salim dulu. Habis dadaah, jangan lupa bilang Assalamualaikum. Waalaikumsalam, jawab kami.

Wow, hari yang luar biasa. Ada lelah, ada bahagia. Terutama saat melihat permata-permata yang siap digosok di mata-mata mereka yang bercahaya.

Pasti butuh tenaga banyak untuk mengilapkannya, semoga yang kami kerjakan diberkahiNya.

Untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.

Untuk generasi muda yang lebih baik.

Untuk Indonesia yang lebih baik.

Amin.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori